Rabu, 16 Mei 2012

Meramal Masa Depan Madura


Saat terpilih sebagai calon Sekjen Ikatan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia (ILP2MI) di Yogyakarta pada Mei tahun yang lalu, saya diminta menyampaikan visi dan misi sekaligus memperkenalkan Madura kepada segenap para peserta. Saya pun memanfaatkan peluang emas itu dengan memaparkan sekilas perkembangan Madura usai dibangunnya jembatan Suramadu. Dalam forum nasional yang dihadiri mahasiswa pilihan se-Indonesia itu, saya pandang sebagai kesempatan besar untuk membangun branding image mengenai keunikan Madura. Saya jelaskan sepintas mengenai kondisi Madura yang kian hari patut dibanggakan; mulai dari budaya, perekonomian, gejolak politik, dan semacamnya. Tak dinyana, saya mendapat apresiasi yang cukup baik dari para peserta kongres.
Dari serentetan penjelasan yang kuberikan, saya sempat menyinggung berkenaan dengan pemetaan potensi empat kebupaten yang ada di Madura sebagai respons atas dibangunnya jembatan Suramadu. Bangkalan akan disulap menjadi Kota Industri, Sampang sebagai Kota Bahari, Pamekasan sebagai Kota Pendidikan, dan Sumenep sebagai Kota Pariwisata. Pelabelan tersebut telah lama menjadi buah bibir masyarakat. Tidak lagi menjadi sesuatu yang asing lagi bagi kita ketika melakukan diskursus terkait dengan masa depan Madura. Entah saya kurang tahu siapa pertama kali yang membumikan isu tentang pemetaan potensi tersebut. Pastinya, hal tersebut tetap menarik untuk diwacanakan dan diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
Sebagai warga yang cerdas, setidaknya kita melakukan beberapa catatan kritis terhadap pemetaan potensi di atas. Bangkalan yang memang menjadi wilayah penghubung utama antara Surabaya dan Madura kini terlihat menggalakkan pembangunan industri. Sampang mulai membenahi diri dengan memanfaatkan laut sebagai komoditi utama penghasilan warganya. Sedangkan Pamekasan melejit namanya dengan serumpun prestasi para pemudanya yang melaju ke pentas nasional, bahkan tak jarang menorehkan prestasi yang diganjar dengan kilau emas. Bagitu halnya dengan Sumenep yang terkenal dengan spirit budaya dan parawisatanya yang tak bakal jenuh untuk dinikmati.
Menilik bargaining position dari empat kabupaten di Madura, kita dapat memikirkan bagaimana hakikat perkembangan pulau Garam ini berlandaskan pada harapan masyarakat setempat. Bangkalan sebagai kabupaten yang berada di ujung barat Madura, masih memperlihatkan kepiluan. Digalakkannya pembangunan industri untuk mengimbangi perkembangan zaman yang terkooptasi dari pembangunan jembatan Suramadu, hanya menyisakan rasa perih di hati masyarakat. Kearifan lokal (local wisdom) pun mulai terhempaskan dan kurang diperhatikan. Bahkan, masyarakat mulai kehilangan tanah-tanahnya, sehingga keuletan mereka dalam bertani telah ditukar dengan lembaran uang yang tentu kurang melanggengkan kesejahteraan dalam waktu yang cukup memanjang.
Sampang pun tak kalah mengenaskan. Kabupaten yang katanya kaya dengan potensi lautnya, belum juga menjadikan masyarakatnya bangga dan sejahtera. Mereka masih terbelakang dalam bidang pendidikan. Perguruan Tinggi yang berada di dalamnya, masih mudah dihitung dengan jari—untuk tidak mengatakan mengenaskan. Potensi lautnya tidak pula digarap secara optimal. Belum ada ceritanya Sampang melakukan terobosan jitu untuk menjadi kabupaten swadaya garam, misalnya. Tapi saya berharap, pernyataan tersebut berpangkal dari minimnya wawasan saya mengenai perkembangan kabupaten Sampang. Sehingga, kenyataannya kini berbicara lain dari apa yang saya utarakan.
Begitu halnya dengan Pamekasan. Katanya kota pendidikan, tapi moralitas para pemudanya sudah berada di titik nadir, memilukan sekaligus memalukan. Media massa, tak lengkap tampaknya manakala tidak menyuguhkan tradisi seksualitas para pemuda Pamekasan yang menistakan kehebatan Pamekasan yang jarang absen berkompetisi di pentas nasional. Seksualitas yang mengarah pada pembinatangan telah menodai prestasi yang terbilang membanggakan itu. Sekalipun selama ini Pamekasan mengibarkan bendera prestasi saintis-nya, tidak menutup kemungkinan hal itu hanya akan menjadi sejarah berlalu yang membangun jarak dengan masa kekinian. Kendati begitu, kita tetap berharap agar para pemuda yang mudah terkubang dalam lautan seksualitas kuasa membangun benteng diri dengan menguatkan iman yang tak terpatahkan.
Bagaimana dengan Sumenep? Julukan Kota Pariwisata tampaknya belum pantas digenggamnya. Ini berkaitan dengan kepedulian para pemangku kebijakan yang masih setengah-setengah mengambil sikap untuk menangani objek wisata di Sumenep secara optimal. Masalah yang melekat pada beberapa objek wisata di Sumenep belum juga hilang. Bahkan, terkesan kian diperparah oleh pemerintah dan masyarakatnya sendiri. Kita dapat ambil contoh Pantai Lombang. Pantai yang dikenal dengan Surga Madura dengan kemilau pasir putih dan lambaian daun cemaranya itu, kini tidak lagi diurus dengan baik. Semenjak terjadi sengketa tanah antara masyarakat setempat dengan pemerintah Sumenep, objek wisata yang cukup fenomenal itu terkatung-katung dan tidak lagi memuaskan hasrat para pendatang.
Dari sedikit masalah yang terpaparkan dalam tulisan ini, kita sudah membayangkan  dan paling tidak melakukan ramalan terhadap masa depan Madura. Meskipun Madura kini masih memperlihatkan kenyataan yang kurang diharapkan, kita harus tetap bangun sikap optimis bahwa Madura mampu menjadi pulau yang diperhatikan dalam konteks nasional atau bahkan internasional. Tampaknya, meramal masa depan Madura tidak semudah mengedipkan mata pada wanita. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar